Akhir-akhir ini saya sering sekali berjalan-jalan, sebagai seorang cewek yang masih berstatus single, jelas "transportasi" menjadi kendala utama, tidak ada "ojek pribadi" yang dengan setia mengantar-menjemput, tidak ada fasilitas transportasi khusus dari orang tua selain mobil-mobil berplat kuning, yang saking banyaknya saya tidak pernah hafal tujuan-tujuan mereka.
akhirnya "KESASAR" menjadi pilihan utama
Setiap saya mengunjungi tempat-tempat yang masih
"baru" buat anak perantauan seperti saya, saya harus rela menyasarkan diri agar sampai di tempat itu. Tak hanya itu, sebagian besar waktu harus dengan rela hati saya habiskan duduk di metromini atau kopaja
(jauh dekat 2000 perak, mending jauh dan nyasar sekalian kan?? :P).
Kadang hanya untuk menghadiri suatu seminar atau workshop yang hanya berdurasi
2,5 jam, saya ,menghabiskan waktu
3 jam berangkat +
3 jam pulang = total
6 jam di perjalanan!!! mau jalanan yang padat merayap, atau bahkan ketika jalan sepi pun, tak pernah membuat si angkot mempercepat laju jalannya.
Segala persoalan
MACET yang sering di keluh kesahkan pegawai yang membawa motor atau bahkan mobil, menjadi
LEBIH DARI MACET pagi pengguna angkutan plat kuning seperti saya dan orang-orang lain.
Pulang jam 10 malam dari Tebet atau bahkan Depok ke Priok, tempat kos-kosan saya didirikan, menjadi hal
"biasa" yang harus dijalani.
Hal yang paling mengesalkan adalah ketika saya harus menunggu angkot yang tak juga datang, ataupun angkot yang jalannya mengalami
keterbelakangan mental, saya harus tetap sabar, sabar, dan sabar, padahal saya tidak punya banyak waktu untuk di buang-buang di jalanan. Namun yang paling mengesalkan adalah pengalaman saya beberapa hari yang lalu :
Beberapa hari lalu, saya berniat menghadiri suatu pertemuan reuni akbar. Satu minggu sebelumnya bahkan saya sudah mempersiapkan diri saya: apa yang akan saya kenakan, apa yang akan saya bawa, ataupun apa yang harus saya bicarakan dengan para tetua di reuni akbar itu nanti. Bahkan saya rela belajar
BERDANDAN, padahal saya orang yang termasuk
anti make up.
Tepat di hari H, ketika saya sudah berpenampilan yang RUUAARRR BIASSAAA...., saya lupa bahwa saya harus naik angkot yang saya tidak tahu. Susah payah saya mencari angkot ke arah tempat reuni itu digelar, tapi akhirnya ada seorang teman yang memberi tahu... :)
Jam setengah lima sore saya berangkat, saya kira tidak butuh waktu lama hanya untuk tiba di daerah Pancoran. Tapi sampai di Cawang saja jam sudah
pukul setengah tujuh lebih, saya deg-degan setengah mati!! acara di mulai
pukul 7 tepat, waktu itu saya pikir
"nggak apa-apalah datang terlambat sedikit"beberapa waktu kemudian
jam di hape saya menunjukkan pukul 8 malam,
dan saya masih tetap di cawang sodara-sodara!! saya telepon teman saya, saya maki-maki dia, saya pikir dia salah kasih petunjuk pada saya, tapi dia ngotot bahwa dia benar, akhirnya saya berusaha sabar dan memutuskan untuk menunggu lima belas menit lagi
lima belas menit kemudian...
Tak ada bus 46 yang muncul satupun!!!saya menangis, dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke tempat kos daripada saya capek-capek dan pulang kemalaman, toh kalaupun sampai disana(Pancoran), bisa jadi acara reuni iu sudah sampai sesi penutupan, mau ditaruh mana muka ini?!?
saya menghela napas sepanjang-panjangnya, lalu menghentikan bus 43 yang lewat dan pulang ke Priok
Tak lama saya duduk di bus itu, sedang bus itu kembali berjalan, sebuah bus lain mendahului bus yang saya tumpangi,
BUS 46 YANG SAYA TUNGGU-TUNGGU!!!dada saya langsung sesak, masakara saya luntur gara-gara air mata, pelan-pelan terbesit sebuah pikiran dalam kepala saya waktu itu:
"apa jangan-jangan jalanan juga tahu saya anak kos?? sehingga semua jadi begitu susah buat saya??"