


Judul di atas terinspirasi oleh suatu nama blog yang saya ikuti "merenung sampai mati" oleh blogger Prie GS
Bukan sekedar isi blognya yang selalu membuat saya, dan mungkin pembaca lainnya, merenung. Juga karena kata-kata "mati" atau "modar" memang selalu membuat kita merenung.
Banyak orang mati setiap harinya, namun akhir-akhir ini saya mendengar banyak berita kematian, baik dari TV, radio, internet, ataupun teman-teman sendiri.
Mulai dari wafatnya MBAH SURIP di tengah-tengah ketenarannya (I LOP U PULL, MBAH..)
Kemudian menyusul sang penyair WS RENDRA, yang selalu membuat saya terngiang pada guru bahasa indonesia saya sewaktu SMA dulu yang begitu ngefans dengan WS RENDRA, hingga namanya jadi mirip-mirip WS RENDRA (perlu diketahui, pada zaman itu beredar gosip diantara teman-teman SMA saya, bahwa guru saya mengganti nama aslinya menjadi agak mirip dengan nama WS RENDRA)
Lalu Prediksi kematian Noordin M TOP yang mengguncang tak hanya liputan berita di seluruh stasiun TV, tapi juga seluruh status member di facebook dan isi blog-blog di indonesia.
Bahkan blog-blog yang sering saya baca ketika saya butuh humor atau ingin tertawa (benablog dan radityadika), "dipaksa" merenung ketika kedua blog tersebut membahas tentang betapa dahsyatnya sebuah kematian.
Aneh memang kematian itu, hampir setiap detik dia dilupakan, namun begitu ia menyapa salah satu di antara orang yang kita kenal, kita diguncang "perenungan" yang cukup dalam.
Aneh memang kematian itu, dan lebih aneh lagi orang yang tidak merenung saat mendengarnya.
Dimata saya sebagai pemuja "single-itas", kematian menjadi lebih aneh lagi, ia membuat saya merenung lebih dari kematian itu sendiri. Apakah akhirnya saya akan bertemu jodoh saya dan mengakhiri pemujaan "single-itas" saya sebelum kematian itu menjemput?? sempatkah saya menyempurnakan bulan agama saya??
ternyata merenung kematian itu DAHSSYAAATTTT ya??
Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa adik teman baik saya di SMA dulu, meninggal dunia karena sakit. Boleh dibilang saya masih ingat wajah imut-imutnya, dan tak pernah menyangka bahwa cowok kecil cakep itu meninggalkan dunia lebih dulu dari saya.
Hal itu membuat saya lebih sadar diri, bahwa kematian tak hanya hadir dalam liputan berita, radio, TV, internet, status di facebook, tapi juga hadir di antara kita....
0 komentar:
Posting Komentar