Ini sebuah cerita pendek.
Anindya melihat pantulan wajahnya dalam cermin, satu per satu air mata menetes dari sudut matanya, mengalir hingga menyentuh ujung bibirnya, sebelum akhirnya ia mengusap dengan jemarinya. Teringat dengan jelas sebuah percakapan ia dengan ibunya bertahun-tahun lalu.
"Kamu tahu nduk? Bapakmu adalah anugerah terindah dalam hidup ibu setelah kamu," Nindya menengok ke arah ibunya yng tiba-tiba berkata seperti itu.
"maksud ibu?" tanya Nindya.
"Siapa yang bakal tahu, lelaki se populer bapakmu bisa jatuh cinta sama ibu, sampai sekarang rasanya ibu ndak bisa percaya,"
hening sejenak antara Nindya dengan ibunya, Nindya menatap ibunya penuh tanda tanya sementara ibunya menghela napas panjang.
"Dulu ibu ndak berani mencintai bapakmu sepenuhnya, sebagai persiapan ketika bapaka meninggalkan ibu demi orang lain, ibu tidak akan terlalu sakit hati, tapi sekarang setelah lebih dari 20 tahun, ibu juga masih tidak berani mencintai bapakmu sepenuhnya."
"kenapa bu?" tanya Nindya penasaran.
"Ibu takut,, bapak sakit dan tiap hari terlihat makin kurus, ibu takut bapak meninggalkan ibu sama kamu lebih dulu, ibu takut..," satu tetes air mata menggenang di sudut mata ibu, dan seperti ada sebongkah batu menohok hati Nindya.
Kini Nindya menatap bayangan wajahnya dalam cermin lebih lama. Apa dirinya akan seperti ibunya??Apa dirinya cukup baik untuk jodoh yang Allah tetapkan untuknya nanti??
Nindya menggeleng kuat. Dia pantas mendapatkan seseorang yang baik, batin Nindya. Nindya menepis bayangan keragu-raguan dalam dirinya. Tuhan tahu yang terbaik untuknya dan dia tidak akan meragukan hal itu. Siapapun pangeran berkuda putihnya, dia percaya, orang itu hanya untuk dirinya.
Tiba-tiba pintu dibelakangnya terbuka.
"Nindya, kamu nangis? ya ampuunnn, maskaranya kan bisa luntur sayang! ayo sini cepet diperbaiki, ijab kabul sudah sebentar lagi!"
Nindya tersenyum melihat wanita dihahapannya. Ibunya.
"Ya bu," jawab Nindya.
0 komentar:
Posting Komentar