Ngemeng doank

is just a drop by story, while we are busy of our journey never end...

Dari sebuah Diary usang di tahun 2006

Bukan lautan hanya kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu

orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman
orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman



ps:
buat negaraku tercinta INDONESIA
lagu di atas tercipta untukmu
namun kita selalu jadi orang yang tak pernah bersyukur



dirgahayu 64 INDONESIAKU



Judul di atas terinspirasi oleh suatu nama blog yang saya ikuti "merenung sampai mati" oleh blogger Prie GS
Bukan sekedar isi blognya yang selalu membuat saya, dan mungkin pembaca lainnya, merenung. Juga karena kata-kata "mati" atau "modar" memang selalu membuat kita merenung.

Banyak orang mati setiap harinya, namun akhir-akhir ini saya mendengar banyak berita kematian, baik dari TV, radio, internet, ataupun teman-teman sendiri.
Mulai dari wafatnya MBAH SURIP di tengah-tengah ketenarannya (I LOP U PULL, MBAH..)
Kemudian menyusul sang penyair WS RENDRA, yang selalu membuat saya terngiang pada guru bahasa indonesia saya sewaktu SMA dulu yang begitu ngefans dengan WS RENDRA, hingga namanya jadi mirip-mirip WS RENDRA (perlu diketahui, pada zaman itu beredar gosip diantara teman-teman SMA saya, bahwa guru saya mengganti nama aslinya menjadi agak mirip dengan nama WS RENDRA)
Lalu Prediksi kematian Noordin M TOP yang mengguncang tak hanya liputan berita di seluruh stasiun TV, tapi juga seluruh status member di facebook dan isi blog-blog di indonesia.

Bahkan blog-blog yang sering saya baca ketika saya butuh humor atau ingin tertawa (benablog dan radityadika), "dipaksa" merenung ketika kedua blog tersebut membahas tentang betapa dahsyatnya sebuah kematian.

Aneh memang kematian itu, hampir setiap detik dia dilupakan, namun begitu ia menyapa salah satu di antara orang yang kita kenal, kita diguncang "perenungan" yang cukup dalam.
Aneh memang kematian itu, dan lebih aneh lagi orang yang tidak merenung saat mendengarnya.

Dimata saya sebagai pemuja "single-itas", kematian menjadi lebih aneh lagi, ia membuat saya merenung lebih dari kematian itu sendiri. Apakah akhirnya saya akan bertemu jodoh saya dan mengakhiri pemujaan "single-itas" saya sebelum kematian itu menjemput?? sempatkah saya menyempurnakan bulan agama saya??
ternyata merenung kematian itu DAHSSYAAATTTT ya??

Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa adik teman baik saya di SMA dulu, meninggal dunia karena sakit. Boleh dibilang saya masih ingat wajah imut-imutnya, dan tak pernah menyangka bahwa cowok kecil cakep itu meninggalkan dunia lebih dulu dari saya.

Hal itu membuat saya lebih sadar diri, bahwa kematian tak hanya hadir dalam liputan berita, radio, TV, internet, status di facebook, tapi juga hadir di antara kita....

Akhir-akhir ini saya sering sekali berjalan-jalan, sebagai seorang cewek yang masih berstatus single, jelas "transportasi" menjadi kendala utama, tidak ada "ojek pribadi" yang dengan setia mengantar-menjemput, tidak ada fasilitas transportasi khusus dari orang tua selain mobil-mobil berplat kuning, yang saking banyaknya saya tidak pernah hafal tujuan-tujuan mereka.

akhirnya "KESASAR" menjadi pilihan utama

Setiap saya mengunjungi tempat-tempat yang masih "baru" buat anak perantauan seperti saya, saya harus rela menyasarkan diri agar sampai di tempat itu. Tak hanya itu, sebagian besar waktu harus dengan rela hati saya habiskan duduk di metromini atau kopaja (jauh dekat 2000 perak, mending jauh dan nyasar sekalian kan?? :P).

Kadang hanya untuk menghadiri suatu seminar atau workshop yang hanya berdurasi 2,5 jam, saya ,menghabiskan waktu 3 jam berangkat + 3 jam pulang = total 6 jam di perjalanan!!! mau jalanan yang padat merayap, atau bahkan ketika jalan sepi pun, tak pernah membuat si angkot mempercepat laju jalannya.

Segala persoalan MACET yang sering di keluh kesahkan pegawai yang membawa motor atau bahkan mobil, menjadi LEBIH DARI MACET pagi pengguna angkutan plat kuning seperti saya dan orang-orang lain.
Pulang jam 10 malam dari Tebet atau bahkan Depok ke Priok, tempat kos-kosan saya didirikan, menjadi hal "biasa" yang harus dijalani.

Hal yang paling mengesalkan adalah ketika saya harus menunggu angkot yang tak juga datang, ataupun angkot yang jalannya mengalami keterbelakangan mental, saya harus tetap sabar, sabar, dan sabar, padahal saya tidak punya banyak waktu untuk di buang-buang di jalanan. Namun yang paling mengesalkan adalah pengalaman saya beberapa hari yang lalu :

Beberapa hari lalu, saya berniat menghadiri suatu pertemuan reuni akbar. Satu minggu sebelumnya bahkan saya sudah mempersiapkan diri saya: apa yang akan saya kenakan, apa yang akan saya bawa, ataupun apa yang harus saya bicarakan dengan para tetua di reuni akbar itu nanti. Bahkan saya rela belajar BERDANDAN, padahal saya orang yang termasuk anti make up.
Tepat di hari H, ketika saya sudah berpenampilan yang RUUAARRR BIASSAAA...., saya lupa bahwa saya harus naik angkot yang saya tidak tahu. Susah payah saya mencari angkot ke arah tempat reuni itu digelar, tapi akhirnya ada seorang teman yang memberi tahu... :)
Jam setengah lima sore saya berangkat, saya kira tidak butuh waktu lama hanya untuk tiba di daerah Pancoran. Tapi sampai di Cawang saja jam sudah pukul setengah tujuh lebih, saya deg-degan setengah mati!! acara di mulai pukul 7 tepat, waktu itu saya pikir "nggak apa-apalah datang terlambat sedikit"

beberapa waktu kemudian
jam di hape saya menunjukkan pukul 8 malam, dan saya masih tetap di cawang sodara-sodara!! saya telepon teman saya, saya maki-maki dia, saya pikir dia salah kasih petunjuk pada saya, tapi dia ngotot bahwa dia benar, akhirnya saya berusaha sabar dan memutuskan untuk menunggu lima belas menit lagi

lima belas menit kemudian...
Tak ada bus 46 yang muncul satupun!!!
saya menangis, dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke tempat kos daripada saya capek-capek dan pulang kemalaman, toh kalaupun sampai disana(Pancoran), bisa jadi acara reuni iu sudah sampai sesi penutupan, mau ditaruh mana muka ini?!?
saya menghela napas sepanjang-panjangnya, lalu menghentikan bus 43 yang lewat dan pulang ke Priok
Tak lama saya duduk di bus itu, sedang bus itu kembali berjalan, sebuah bus lain mendahului bus yang saya tumpangi, BUS 46 YANG SAYA TUNGGU-TUNGGU!!!
dada saya langsung sesak, masakara saya luntur gara-gara air mata, pelan-pelan terbesit sebuah pikiran dalam kepala saya waktu itu:
"apa jangan-jangan jalanan juga tahu saya anak kos?? sehingga semua jadi begitu susah buat saya??"