layaknya sebuah tagline iklan, saya juga bertanya-tanya pada diri saya sendiri, kenapa saya tidak pernah menulis blog? kenapa saya tidak meneruskan project calon novel saya? kenapa akhir-akhir ini saya susah sekali menulis? tanya kenapa?!?
saya ingin menyalahkan wireless kosan yang membuat saya betah lama-lama depan komputer untuk surfing internet dan tidak sempat menulis, tapi... saya punya banyak waktu lain, kenapa tidak sempat? tanya kenapa?!?
lalu saya mulai menyalahkan tugas-tugas kuliah saya yang bertumpuk, otak saya terkuras untuk menulis coding daripada menulis cerita, tapi... saya masih bisa berpikir untuk facebookan, kenapa tidak bisa berpikir menulis? tanya kenapa?
lalu saya menyalahkan mood saya yang berantakan, saya tidak pernah mendapatkan mood yang tepat saat menulis sehingga menyulitkan saya, lalu kenapa mood saya berantakan? tanya kenapa?!?
lalu saya menyadari bahwa dalam hidup, saya terlalu menyalahkan hal-hal disekitar saya, hal-hal biasa yang seharusnya bisa saya lewati dengan biasa pula.
sampai sekarangpun saya tidak tahu kenapa saya berhenti menulis, tidak tahu kenapa saya tidak punya ide untuk meneruskan menulis... saya tetap belum tahu..
tapi setidaknya saya ingin berterimakasih pada:
1. wireless, yang selalu membantu saya bisa online dan surfing internet ketika ide-ide saya stuck di satu tempat
2. tugas-tugas kuliah, yang memberi saya banyak sekali ilmu dan rasa pusing sehingga saya bisa menikmati masa-masa ketika tugas itu sudah terselesaikan :)
3. mood yang berantakan, yang ternyata mampun membuat saya punya keinginan untuk menulis postingan ini, setelah sekian lama tidak menulis dan tidak berkarya :)
dan seluruh benda-benda dan orang-orang yang dengan ikhlas mau saja saya sering salahkan ketika saya tidak mood untuk menyalahkan diri saya sendiri atau menemukan solusi.
thx to all.
thx to the whole world. :D
bout something not important that keep me awake from sleep
perhaps i should tell you without shame neither sorry
bout something just crap that keep me so much in pain
perhaps i should tell you...
i miss you
i miss you a lot
that makes me looked so pathetic
i miss you
i miss you badly
that makes me looked disgraceful
and even though i see you now
i still miss you
even though you're standing next to me
i feel you were someone else
cos we already became stranger to each other
or maybe i had lied
to you and to myself...
cos it's not you who i miss too much
its someone else
it's you were in the past...
Berhari-hari saya tidak bisa menulis, bukan dikarenakan jari saya patah atau hal-hal teknis lainnya, tapi lebih pada.... tidak ada hal yang ingin saya ceritakan
kemudian setelah berhibernasi selama hampir 14 jam, entah darimana kalimat itu muncul, dari mimpi ataukah artikel sebelum saya tidur, yang pasti kata-kata itu muncul:
saya menuliskan kalimat itu dalam status facebook, tapi tak menemukan komentar satupun dari teman-teman saya, jadi saya mencoba untuk men-googled nya.
tak menyangka banyak sekali halaman yang muncul, yaitu 9,010,000 halaman!! Akhirnya saya membuka link halaman pertama yang muncul, silakan dilihat disini.
Envy atau Jealousy
atau menurut para ulama indonesia, Iri hati atau dengki. adalah hal atau sifat yang bersifat negatif dan harus dihindari. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa bagimanapun juga Envy itu adalah bagian dari hidup?? bahwa kita tak pernah bisa benar-benar lepas dari Envy itu sendiri??
Envy hadir dalam setiap aspek hidup, sekolah, kuliah, pekerjaan, keluarga, teman, romantika. Selama kita masih bersentuhan dengan aspek-aspek itu, kita tak pernah lepas dari Envy itu sendiri.
Envy memiliki Power yang sangat amat kuat. Bahkan Envy bisa merubah sifat asli seseorang, bila orang itu tidak bisa mengendalikan Jealousy yang ada dalam dirinya.
Alangkah sayangnya bila kita harus menghilangkan Power kuat dari Envy?? hal yang dapat dimungkinkan terjadi adalah How to Deal with It. Bagaimana kita bisa berdamai dengan Iri hati dan Dengki. Bagaimana kita menyalurkan Power envy untuk hal-hal positif.
misalnya:
ketika seseorang mengendarai Lamborghini yang sangat kita idamkan, kita merasa jengkel dan iri kepadanya. Muncullah Power of Envy, dan yang perlu kita lakukan adalah menyalurkan kekuatan dasyat itu untuk melakukan hal-hal lain, seperti belajar dan bekerja dengan tujuan suatu hari tiba saatnya kita mengendarai Lamborghini yang sama ^.^

hows that sound?? :)

ada yang inget nggak lagu menabung, kalau nggak salah ada liriknya yang begini:
well, dahulu kala sewaktu lagu itu muncul pertama kali dan saya masih kecil, lagu itu adalah lagu yang sangat inspiring bagi hidup saya, saya mendedikasikan hidup saya untuk menabung, dari tabungan ayam-ayaman (dari small size sampai big size), lalu menabung di tas boneka bebek (yang saya ingat sekali warnanya kuning dengan mulut dan dasi kupu-kupu berwarna merah, iya teman, boneka bebeknya berdasi kupu-kupu!!), hingga pada saat kelas 5-6 SD saya dibuatkan sebuah rekening bank dengan nama saya sendiri di BRI cabang desa... (tabungan pertama hanya Rp20.000, hahaha)
menabung pangkal kaya adalah motto hidup saya ketika kelas 6 SD
namun....
sekarang, saya hanya merasa adalah menabung, bukan untuk menjadi kaya...., menabung adalah salah satu cara kita untuk melepas tanggung jawab dari mengelola keuangan.
dalam kepala saya di usia 20 tahun, 8 tahun kemudian sejak saya membuat rekening bank saya pertam kali, adalah:
apakah kita akan kaya dengan "menganggurkan" uang di bank???
Dari sebuah Diary usang di tahun 2006
Bukan lautan hanya kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu
orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman
orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman
ps:
buat negaraku tercinta INDONESIA
lagu di atas tercipta untukmu
namun kita selalu jadi orang yang tak pernah bersyukur
dirgahayu 64 INDONESIAKU



Judul di atas terinspirasi oleh suatu nama blog yang saya ikuti "merenung sampai mati" oleh blogger Prie GS
Bukan sekedar isi blognya yang selalu membuat saya, dan mungkin pembaca lainnya, merenung. Juga karena kata-kata "mati" atau "modar" memang selalu membuat kita merenung.
Banyak orang mati setiap harinya, namun akhir-akhir ini saya mendengar banyak berita kematian, baik dari TV, radio, internet, ataupun teman-teman sendiri.
Mulai dari wafatnya MBAH SURIP di tengah-tengah ketenarannya (I LOP U PULL, MBAH..)
Kemudian menyusul sang penyair WS RENDRA, yang selalu membuat saya terngiang pada guru bahasa indonesia saya sewaktu SMA dulu yang begitu ngefans dengan WS RENDRA, hingga namanya jadi mirip-mirip WS RENDRA (perlu diketahui, pada zaman itu beredar gosip diantara teman-teman SMA saya, bahwa guru saya mengganti nama aslinya menjadi agak mirip dengan nama WS RENDRA)
Lalu Prediksi kematian Noordin M TOP yang mengguncang tak hanya liputan berita di seluruh stasiun TV, tapi juga seluruh status member di facebook dan isi blog-blog di indonesia.
Bahkan blog-blog yang sering saya baca ketika saya butuh humor atau ingin tertawa (benablog dan radityadika), "dipaksa" merenung ketika kedua blog tersebut membahas tentang betapa dahsyatnya sebuah kematian.
Aneh memang kematian itu, hampir setiap detik dia dilupakan, namun begitu ia menyapa salah satu di antara orang yang kita kenal, kita diguncang "perenungan" yang cukup dalam.
Aneh memang kematian itu, dan lebih aneh lagi orang yang tidak merenung saat mendengarnya.
Dimata saya sebagai pemuja "single-itas", kematian menjadi lebih aneh lagi, ia membuat saya merenung lebih dari kematian itu sendiri. Apakah akhirnya saya akan bertemu jodoh saya dan mengakhiri pemujaan "single-itas" saya sebelum kematian itu menjemput?? sempatkah saya menyempurnakan bulan agama saya??
ternyata merenung kematian itu DAHSSYAAATTTT ya??
Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa adik teman baik saya di SMA dulu, meninggal dunia karena sakit. Boleh dibilang saya masih ingat wajah imut-imutnya, dan tak pernah menyangka bahwa cowok kecil cakep itu meninggalkan dunia lebih dulu dari saya.
Hal itu membuat saya lebih sadar diri, bahwa kematian tak hanya hadir dalam liputan berita, radio, TV, internet, status di facebook, tapi juga hadir di antara kita....
Akhir-akhir ini saya sering sekali berjalan-jalan, sebagai seorang cewek yang masih berstatus single, jelas "transportasi" menjadi kendala utama, tidak ada "ojek pribadi" yang dengan setia mengantar-menjemput, tidak ada fasilitas transportasi khusus dari orang tua selain mobil-mobil berplat kuning, yang saking banyaknya saya tidak pernah hafal tujuan-tujuan mereka.
Setiap saya mengunjungi tempat-tempat yang masih "baru" buat anak perantauan seperti saya, saya harus rela menyasarkan diri agar sampai di tempat itu. Tak hanya itu, sebagian besar waktu harus dengan rela hati saya habiskan duduk di metromini atau kopaja (jauh dekat 2000 perak, mending jauh dan nyasar sekalian kan?? :P).
Kadang hanya untuk menghadiri suatu seminar atau workshop yang hanya berdurasi 2,5 jam, saya ,menghabiskan waktu 3 jam berangkat + 3 jam pulang = total 6 jam di perjalanan!!! mau jalanan yang padat merayap, atau bahkan ketika jalan sepi pun, tak pernah membuat si angkot mempercepat laju jalannya.
Segala persoalan MACET yang sering di keluh kesahkan pegawai yang membawa motor atau bahkan mobil, menjadi LEBIH DARI MACET pagi pengguna angkutan plat kuning seperti saya dan orang-orang lain.
Pulang jam 10 malam dari Tebet atau bahkan Depok ke Priok, tempat kos-kosan saya didirikan, menjadi hal "biasa" yang harus dijalani.
Hal yang paling mengesalkan adalah ketika saya harus menunggu angkot yang tak juga datang, ataupun angkot yang jalannya mengalami keterbelakangan mental, saya harus tetap sabar, sabar, dan sabar, padahal saya tidak punya banyak waktu untuk di buang-buang di jalanan. Namun yang paling mengesalkan adalah pengalaman saya beberapa hari yang lalu :
Beberapa hari lalu, saya berniat menghadiri suatu pertemuan reuni akbar. Satu minggu sebelumnya bahkan saya sudah mempersiapkan diri saya: apa yang akan saya kenakan, apa yang akan saya bawa, ataupun apa yang harus saya bicarakan dengan para tetua di reuni akbar itu nanti. Bahkan saya rela belajar BERDANDAN, padahal saya orang yang termasuk anti make up.
Tepat di hari H, ketika saya sudah berpenampilan yang RUUAARRR BIASSAAA...., saya lupa bahwa saya harus naik angkot yang saya tidak tahu. Susah payah saya mencari angkot ke arah tempat reuni itu digelar, tapi akhirnya ada seorang teman yang memberi tahu... :)
Jam setengah lima sore saya berangkat, saya kira tidak butuh waktu lama hanya untuk tiba di daerah Pancoran. Tapi sampai di Cawang saja jam sudah pukul setengah tujuh lebih, saya deg-degan setengah mati!! acara di mulai pukul 7 tepat, waktu itu saya pikir "nggak apa-apalah datang terlambat sedikit"
beberapa waktu kemudian
jam di hape saya menunjukkan pukul 8 malam, dan saya masih tetap di cawang sodara-sodara!! saya telepon teman saya, saya maki-maki dia, saya pikir dia salah kasih petunjuk pada saya, tapi dia ngotot bahwa dia benar, akhirnya saya berusaha sabar dan memutuskan untuk menunggu lima belas menit lagi
lima belas menit kemudian...
Tak ada bus 46 yang muncul satupun!!!
saya menangis, dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke tempat kos daripada saya capek-capek dan pulang kemalaman, toh kalaupun sampai disana(Pancoran), bisa jadi acara reuni iu sudah sampai sesi penutupan, mau ditaruh mana muka ini?!?
saya menghela napas sepanjang-panjangnya, lalu menghentikan bus 43 yang lewat dan pulang ke Priok
Tak lama saya duduk di bus itu, sedang bus itu kembali berjalan, sebuah bus lain mendahului bus yang saya tumpangi, BUS 46 YANG SAYA TUNGGU-TUNGGU!!!
dada saya langsung sesak, masakara saya luntur gara-gara air mata, pelan-pelan terbesit sebuah pikiran dalam kepala saya waktu itu:
"apa jangan-jangan jalanan juga tahu saya anak kos?? sehingga semua jadi begitu susah buat saya??"
